Maceeeet!! kita korban atau pelaku???

•September 22, 2012 • 2 Comments

“Haddduuuuh,, macet banget siiiiih!” Kira-kira begitulah makian yang terucap setiap pagi dan sore hari. Makian yang sama yang mungkin terucap baik oleh pengendara mobil, motor, penumpang bus kota, sampai mungkin sang kenek metromini.

Macet, tampaknya sudah menjadi bagian dari keseharian warga jakarta, entah kita memang sudah terbiasa atau hanya sekedar membiasakan diri dengan berusaha memaklumi.
Disini saya gak mau berpusing-pusing mikirin solusi yang mungkin bisa ditawarkan untuk mengatasi kemacetan. Biarkan itu menjadi program para cagub2 lain nantinya :p yang terlintas di benak saya justru adalah pertanyaan “kita ini korban kemacetan atau justru pelaku kemacetan?”

Bagi anda yang memilih naik bus mungkin akan menjawab lantang “kami korban dong, krn kami gak ikut-ikutan bawa mobil yang nambah antrean.”
Dan mungkin bagi sebagian lain yang membawa kendaraan sendiri jadi berpikir “ya mungkin kami bisa dibilang pelaku kemacetan juga sih, tapi….”
Hehehe… Menurut saya kita adalah korban karena kita telah mengorbankan waktu yang berharga dengan bermacet-macetan setiap harinya, namun kita juga adalah pelaku kemacetan karena kita ikut “menyumbangkan” diri kedalam kemacetan itu 😀

Sebenarnya ada satu hal yang sangat sederhana yang bisa kita lakukan untuk sedikitnya mengurangi rasa bersalah karena merasa menjadi “pelaku” dan tentu saja kita berharap bisa sedikit mengurangi kemacetan itu sendiri (aamiin) yaitu dengan menjadi pengendara yang cerdas dan atau menjadi penumpang yang bijak.

Saat membawa kendaraan sendiri, please sebisa mungkin mematuhi peraturan lalu lintas terutama lampu merah. Seringkali saya melihat ada mobil atau motor berusaha menerobos lampu merah dan hasil akhirnya adalah dia stuck ditengah jalan karena dari arah lainnya kendaraan-kendaraan lain sudah jalan. Akhirnya jadi macet 2 sisi kan?! Lalu soal stop di sembarang tempat, lalu (yang paling saya sebelin) gak kasih sen kalau mau belok atau lampu sen nyala padahal dia lurus-lurus aja. Coba yuk, belajar jadi pengendara yang cerdas yang tahu artinya rambu-rambu lalu lintas dan tata berkendara yang baik. Saya pun terus belajar walau kadang di klakson oleh kendaraan belakang gara-gara sering “ngetem” nunggu lampu benar-benar hijau 😀

Lalu, bagi kita yang menjadi penumpang yang (cuma bisa) duduk manis di angkot atau bus, yuk coba belajar naik dan turun angkotnya di tempat yang “benar”. Memang saya akui fasilitas jalan sendiri kurang memadai, mulai dari halte yang jarang sampai jembatan penyembrangan yang gak layak. Tapi cobalah mengkaji tempat-tempat mana saja yang (paling tidak) tidak mengganggu pengguna jalan lainnya. Misal, jangan pernah memberhentikan angkot di pertigaan apalagi tepat di belokan (belive me, itu ganggu banget!) Belajarlah turun/naik angkot di halte, gak apa deh jalan dikit itung-itung olahraga. Hehehe… Lalu, suka kesel kan kalo angkot yang kita naikin itu ngetemnya lamaaaaaaa?! Nah, sesekali kasih “pelajaran” deh ke supirnya. Saya pernah iseng bisik-bisik ngajak semua penumpang di dalam angkot buat turun dan naik angkot lain. Hehehehe…

Yah, itu sedikit “isi otak” malam ini menjelang tidur. Semoga bisa menginspirasi, walau saya yakin implementasi di lapangannya jauh lebih kompleks. Yah, maka berimprovisasilah. Hehehehe..
Jadilah pengendara cerdas dan penumpang bijak ^^V

apa guna Styrofoam sebenarnya?? #mikir

•September 21, 2012 • Leave a Comment

“Bang, bungkus bubur ayam 1 yak! Tapi jangan pake styrofoam, pake plastik biasa aja.”

“Iya neng!”

tapi masih dapat kudengar gerutu pelan darinya “duh, ribet banget deh”

itu sepenggal kisah yang (sayangnya) selalu aku hadapi saat membeli makanan untuk dibungkus. Baik membeli bubur ayam, pecel lele, mie ayam, sampe sup ayam pun hampir semua resto dan warung memakai styrofoam.

pernah aku iseng ngomong ke warung pecel lele langganan di daerah otista :

“Teh, kenapa gak pake box karton aja sih buat yang kalo dibungkus?”

iseng aja pengen nanya walau sebenarnya dalam hati juga udah tahu jawabannya akan seperti apa 😀

“aduuuuh, repot deh lo! gw harus nekuk-nekukin, nyekrekin, misahin tutupnya. kan kalo pake ini (styrofoam) udah tinggal pakai.”

“jiiiiaaah… gw bantuin deh teh.” iseng ku pun bertambah, ingin tahu apa jawabannya

“Yeee… lagian harganya lebih mahal tau!”

“Tapi kan nih styrofoam bakal jadi sampah yang gak bisa terurai teh?!”

“ah, itu sih urusan yang ngurusin sampah deh mau dijadiin apa kek nantinya.”

“Tapi buat kesehatan kan juga gak baik bungkus makanan pake ginian, bisa kanker loh!” kataku tetep gak mau kalah.

“Yaelaaaah, kalo emang waktunya mati mah mati aja kali!”

Miris! sudah sebegitunya kah kita tidak peduli bahkan pada kesehatan kita sendiri?! sebegitu sempitnyakah waktu sampai kita tak punya waktu bahkan untuk berpikir mana yang baik untuk diri kita?!

Styrofoam terbuat dari butiran-butiran styrene  dan diproses dengan menggunakan benzana, yang fungsinya antara lain adalah untuk mengurangi daya hantar panas, yang kemudian dimanfaatkan (sayangnya dengan salah) sebagai pembungkus makanan panas demi menjaga suhu makanan dan juga demi si penenteng makanan tidak terkena panas. padahal, semakin panas suhu makanan semakin cepat pula migrasi bahan kimia tersebut ke dalam makanan. sekarang pertanyaannya “Relakah kita merusak tubuh kita sendiri dengan zat kimia berbahaya tersebut?”

Belum puas dengan merusak diri sendiri, mungkin kita masih ingin merusak lingkungan? hehehe… mudah-mudahan gak yaaa…

BAGI LINGKUNGAN

styrofoam adalah musuh besar yang paling dihindari. Karena sifatnya yang tidak bisa diuraikan oleh alam sama sekali dan sulit didaur ulang karena kurangnya fasilitas daur ulang yang sesuai.

Dimulai dari proses produksi yang menghasilkan limbah yang sangat berbahaya. Data dari EPA (Environmental Protection Agency) limbah hasil pembuatan styrofoam ditetapkan sebagai limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Bau pada proses produksinya mampu mengganggu pernapasan dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara.

Semua proses berbahaya itu, waktu penggunannya padahal sangat singkat (hanya untuk menaruh membungkus makanan untuk sementara waktu atau melapisi barang elektronik sampai barang itu dibeli) styrofoam yang sudah diproduksi dalam jumlah banyak itu dibiarkan menumpuk dan mencemari lingkungan.

HUBUNGANNYA DENGAN GLOBAL WARMING

Cloro Fluoro Carbon (CFC) adalah bahan peniup pada pembuatan styrofoam merupakan gas yang tidak beracun dan mudah terbakar serta sangat stabil. Begitu stabilnya, gas ini baru bisa terurai sekitar 65-130 tahun. Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang karena tidak bereaksi, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berbahaya.

CFC adalah salah satu Gas Rumah Kaca, yang bila berada di atmosfer menyerap sinar inframerah yang dipantulkan oleh bumi. Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan efek rumah kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Makin panjang waktu tinggal gas di atmosfer, makin efektif pula pengaruhnya terhadap kenaikan suhu.

Zat-zat chlorofluorocarbon, mempunyai nilai GWP lebih tinggi dari 10.000. Itu berarti bahwa satu molekul zat chlorofluorocarbon mempunyai efek rumah kaca lebih tinggi dari 10.000 molekul karbon dioksida. Dengan kata lain, makin tinggi nilai GWP suatu zat tertentu, makin efektif pula pengaruhnya terhadap kenaikan suhu.

Kalau tidak ada lapisan ozon, radiasi cahaya ultraviolet mencapai permukaan bumi dan menyebabkan kematian organisme, tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di lautan mati, terjadi mutasi genetic, menyebabkan kanker kulit atau kanker retina mata. Menurut pengamatan melalui pesawat luar angkasa, lubang ozon di atas Kutub Selatan semakin lebar. Saat ini, lubang ozon sudah meluas sampai tiga kali benua Eropa. Jika lubang ozon melebar, sinar ultraviolet yang memasuki bumi semakin tinggi intensitasnya. Ekosistem laut dan pertanian terganggu dan insiden penyakit kanker kulit meningkat. Karena itu penggunaan gas CFC harus dibatasi atau bahkan dihentikan. (taken from http://stopstyrofoaming.blogdetik.com )

Hayooo, sekarang kalau jalan-jalan di luar bukan lagi sekedar “takut hitam” lagi kan?!

Lalu pertanyaan yang muncul adalah :

1. masihkah kita mau menggunakan styrofoam?

2. apakah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi pemakaian styrofoam?

silakan merenung sesaat untuk menjawab 2 pertanyaan diatas. hehehehe…

prakata

•September 21, 2012 • 1 Comment

“The Miracle is not to fly in the air or to walk under water. The miracle is to walk on the earth” (chinese proverb)

adalah salah satu quote yang sangat saya sukai, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur sekaligus mengatakan bahwa manusia hidup diatas bumi dan berdampingan dengan alam adalah suatu “keajaiban”.

Namun sayang, yang kemudian terjadi adalah terjadinya eksploitasi lingkungan demi kepentingan hidup manusia itu sendiri dan mungkin saya atau anda pun ikut andil di dalamnya. Tapi saya percaya, selalu ada cara-cara sederhana untuk melindungi lingkungan dari kerusakan.

my mom always said “Orang tua sebenernya udah seneng kalo anak-anaknya bersikap baik dan gak nambahin pusing orang tua dengan kenakalannya” mungkin prinsipnya sama, hal paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk lingkungan adalah dengan tidak menambah masalah lingkungan, dengan tidak merusak, dengan tidak membuang sampah sembarangan, dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan dengan mulai dari diri sendiri dulu.

 

Regards,

D. Kurnia

simpul-simpul sang waktu

•April 13, 2011 • Leave a Comment

masih..aku menghabiskan waktu dengan mengingatmu..
eh tunggu, ada yang lucu dengan kalimatku, apa benar waktu bisa habis? Berlalu pergi kemana ia?

Huuufftt,, ingin rasanya aku bisa kembali berbagi denganmu…
Kamu…apa juga mengingatku?
Atau hanya aku yang sendiri mengecap manis kenangan kita?

waktu.. Kenapa ia tak mampu menghapus kenangan ini?
apa ini artinya kenangan melebihi kekuatan sang waktu?

Kamu…
Aku berharap bisa berbagi denganmu, walau seringkali obrolan kita justru menghadirkan banyak pertanyaan-pertanyaan baru..

Kamu…
dalam waktumu, apa kamu menemukan apa yang kamu cari?
dan apa yang sebenarnya aku cari?
Entah… mungkin waktu yang akan menuntunku..

Ah, lagi-lagi waktu… lagi-lagi aku berharap pada waktu..

Kamu…
bisakah kamu menunjukan padaku apakah waktu?
Mungkin, saat aku bisa menemukanmu (lagi), itulah saat aku bisa menggenggam waktu… merajut kenangan dengan simpul-simpul sang waktu…